Jumat, 17 April 2015


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas filsafat umum. Dalam makalah ini kami menjelaskan filsafat idealisme Plato. Plato merupakan filsuf yang berasal dari Yunani. Filsafat Yunani terdiri dari filsafat Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Disini kami akan menjelaskan sejarah tentang Plato, ide-ide Plato,  pemikiran politik Plato, serta negara ideal menurut Plato.
B.     Perumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah Plato ?
2.      Apa saja ide-ide Plato ?
3.      Apa saja pemikiran politik menurut Plato ?
4.      Bagaimana Negara ideal menurut Plato ?
  













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Plato
Plato adalah seorang filsuf Yunani pertama yang kita ketahui lebih banyak, berdasarkan karya-karyanya dan juga pengikut Socrates yang taat di antara para pengikutnya yang mempunyai pengaruh besar. Diantara buku-bukunya yang ditulisnya ialah: Apologia, Politeia, Sophistes, Timaios, dan lain-lain. Plato dilahirkan di Athena pada tahun 427 s.M. dan meninggal disana pada tahun 347 s.M. dalam usia 80 tahun. Plato berasal dari keluarga aristokrasi yang turun-temurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Selain dikenal sebagai ahli pikir, Plato juga di kenal sebagai seorang sastrawan yang terkenal. Ia lahir di Athena, dengan nama asli Aristocles. Ia belajar filsafat dari Socrates[1], Pythagoras[2], Heracleitos dan Elia. Ajarannya yang paling besar pengaruhnya adalah Ariston dan ibunya bernama Periktione. Ia lahir dari keluarga bangsawan dan mendapatkan pendidikan yang baik dari seorang bangsawan bernama Pyrilampes. Pelajaran yang diperolehnya dimasa kecilnya, selain dari pelajaran umum, ialah menggambar dan melukis, disambung dengan belajar musik dan puisi. Sebelum dewasa, ia sudah pandai membuat karangan yang bersajak. Plato mendapatkan pendapat dari guru-guru filosofi. Mula-mula diperoleh dari Kratylos. Kratylos dahulunya murid dari Heracleitos[3]. Sejak anak-anak ia telah mengenal Socrates dan kemudian menjadi menjadi guru Plato selama 8 tahun. Saat usia 40 tahun, Plato mengadakan perjalanan selama 12 tahun ke depan  dan mengunjungi beberapa wilayah lain Yunani, Mesir, Italia, Sicilia untuk belajar ajaran Phytagoras dan mendekati akhir perjalanan ia bahkan ditangkap bajak laut yang kemudian dibebaskan dengan uang tebusan. Kemudian sekembalinya ia mendirikan sekolah yang diberi nama Akademis. Dinamakan Akademis, karena berdekatan dengan kuil Akademos seorang pahlawan Athena. Ia memimpin sekolah tersebut selama 40 tahun. Ia memberikan pengajaran dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat terutama bagi orang-orang yang ingin menjadi politikus. Kemudian sekolah tersebut ditutup oleh Kaisar Yustinianus karena ia menganggap sekolah itu sebagai pusat belajar kaum pagan[4]. Sebagai titik tolak pemikiran filsafatnya, Ia mencoba menyelesaikan permasalahan lama: mana yang benar antara berubah-ubah (Heracleitos) atau tetap (Parmenides). Mana yang benar antara pengetahuan yang lewat indera dengan pengetahuan yang lewat akal. Pengetahuan lewat indera di sebutnya pengetahuan indera atau pengetahuan pengalaman. Sedangkan pengetahuan lewat akal disebutnya pengetahuan akal. Pengetahuan indera bersifat tidak tetap atau berubah-ubah sedangkan pengetahuan akal bersifat tetap atau tidak berubah-ubah.
Guru filsafat yang amat dikagumi plato,dihormati,dan dicintai plato adalah socrates.Karya-karya plato menggunakan  metode yang dikembangkan oleh sokrates yang dikenal dengan nama”metode dialektis”.Metode ini terwujud dalam suatu tanya jawab atau dialog sebagai suatu upaya untuk mencapai kebenaran dan pengetahuan.
Secara tidak langsung warisannya pada filsafat ada 3,yaitu:
1.Warisan pertama:Tegaknya pengajian realitas secara induktif.         
2.Warisan kedua:Formulasi  doktrin bahwa kebaikan adalah pengetahuan.
3.Warisan ketiga:Ada tahanan intelektual dan moral yang bisa ditemukan manusia.
B.     Tentang Idea
            Plato menerangkan manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu pengalaman yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah; dan dunia ide yang bersifat tetap dan tidak berubah. Dunia pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide, sedangkan dunia ide merupakan dunia yang sesungguhnya.
Plato berusaha menangani persoalan yang dihadapi Heracleitos dan Parmenides. Heracleitos hanya mau mengakui gerak saja dan menolak segala gagasan tentang perhentian. Parmenides sebaliknya hanya mau mengakui perhentian saja dan menolak segala gagasan tentang gerak. Pemecahan Plato terletak di sini, bahwa yang serba berubah itu dikenal oleh pengamatan, akan tetapi yang tidak berubah dikenal oleh akal. Demikianlah Plato berhasil menjembatani pertentangan yang ada antara Heracleides, yang menyangkal tiap perhentian, dan Parmenides, yang menyangkal tiap gerak dan perbuatan. Yang tetap, yang tidak berubah, yang kekal itu oleh Plato disebut “ide”[5].
. Dibandingkan dengan gurunya, Socrates, Plato telah maju selangkah dalam pemikirannya. Socrates baru sampai pada pemikiran yang umum dan merupakan hakikat suatu realitas, tetapi Plato telah mengembangkannya dengan pemikiran bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang umum” tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara kongkret, yaitu ide. Dalam ide inilah yang dipikirkan dan diketahui oleh akal. Ide bersifat obyektif, artinya: berdiri sendiri, lepas daripada subyek yang berpikir, tidak tergantung kepada pemikiran manusia, akan tetapi justru sebaliknya, idelah yang memimpin pikiran manusia.
Pendapat Plato tentang Tuhan, antara lain:
1.      Manusia itu mempunyai tuhan sebagai penciptanya.
2.      Tuhan itu mengetahui segala sesuatu yang di perbuat oleh manusia.
3.      Tuhan hanya dapat di ketahui dengan cara negative, tidak ada ayah, tidah ada anak, dan lain-lain
4.      Tuhanlah yang menjadikan alam ini dari tidak mempunyai peraturan menjadi mempunyai peraturan.
            Dalam Buku X dari risalatnya, Plato beranggapan filsuf-filsuf alam, yang kita kenal sebagai filsuf-filsuf Pra-Socrates sebagaimana telah kita diskusikan, sebagai kelompok materialis yang menjadi pesaing membahayakan bagi agama. Mengapa ia menganggap mereka sebagai kaum materialis? Karena ia percaya dalam filsafat alam mereka menganggap semua objek alam, baik yang organisasi maupun non-organik, berasal dari benda mati dan tidak berjiwa.
            Sebaliknya Plato menekankan pada seni (technê [τɛΨѵƞ]) sebagaimana di pertentangkan dengan alam ([φθσισ]). Plato memiliki satu risalat utama tentang kosmologi dan filsafat alam.    Dalam teorinya tentang gagasan, atau bentuk, Plato mengagungkan penalaran daripada persepsi indera. Plato melakukan hal ini karena persepsi indera adalah segala sesuatu yang selalu mengalami perubahan bahan. Plato merasa yakin kita tidak bisa mendapatkan pengetahuan sesungguhnya dengan jalan observasi dan persepsi indera, karena segala sesuatu yang kita sebut dengan nama yang sama berbeda satu sama lain seperti halnya kita menyebut dengan nama “kucing”. Plato berasumsi, karena kita bisa memberlakukan istilah “kucing” pada makhluk yang berbeda-beda, kita bisa melakukan hal ini karena kucing mempunyai suatu kesamaan. Seekor kucing yang kita pahami merupakan salinan tak sempurna dari bentuk ideal kucing. Ada bentuk unik, ideal, dan sempurna untuk setiap jenis binatang dan setiap jenis objek.
            Plato menganggap bentuk ini sebagai bentuk yang tak terciptakan abadi, tak berbadan, dan tidak mengalami perubahan. Kita hanya bisa mengenalinya dalam bentuk pemikiran dan penalaran; dan karena mereka abadi dan tidak berubah, kita juga bisa mempunyai pengetahuan tentang mereka, dimana kita hanya memiliki pendapat tentang multiplisitas objek-objek fisik dan makhluk hidup yang bisa berubah yang kita pahami dengan indera-indera kita. Oleh karena jiwa kita menatap pada bentuk-bentuk ideal, memperhatikan salinan-salinan pucat mereka di dunia indera, menyebabkan manusia secara samar-samar mengumpulkan kembali gagasan-gagasan bahwa mereka pernah melihatnya secara langsung.
            Satu-satunya usaha Plato untuk menghasilkan filsafat alam muncul dalam Timaeus, salah satu karya terakhir Plato. Dalam risalat ini, Plato berbicara melalui Timaeus, yang mempersembahkan catatan penciptaan dunia dalam bentuk mitos.” Jika kita bisa melengkapi catatan-catatan tidak lebih mungkin dari pada yang lainnya,” Timaeus menyatakan pada Socrates. Plato tidak percaya kita bisa sampai pada suatu diskripsi yang tepat tentang dunia fisik.
Dalam struktur dunia yang diberikan pada Timaeus, ia menjadikan teori gagasan atau bentuk sebagai dasar dunia yang kita alami ini. Plato berasumsi dunia unik kita didandani oleh seorang dewa atau demiurge. Peran utama dalam kisah penciptaan ialah pencipta yang oleh Plato disebut DEMIURGOS. Istilah tersebut diambil dari bahasa yunani yang berarti “pekerja”. Seseorang yang menyerupai tukang kayu. Plato memahamkan dunia kita sebagai sesuatu yang terbentuknya mirip sekali dengan cara ketika seorang kayu memberi bentuk meja yang dibuatnya. Seperti halnya seorang tukang kayu membayangkan suatu bentuk tertentu yang akan diberikannya kepada meja yang akan dibuatnya, begitu pula Demiurgos mencipta dunia menurut suatu bentuk tertentu. Dalam hubungannya dengan masalah ciptaan ini, bentuk-bentuk bersifat abadi[6].
Demiurge, kata Plato melalui Timaeus, adalah baik adanya; dan dalam kebaikan tak ada kecemburuan dalam bentuk apapun. Bahwa ini merupakan suatu prinsip kemenjadian yang sangat valid dan prinsip tata dunia. Karenanya Demiurge bukan seorang dewa pencipta, yang menjadikan dunia dari ketiadaan, melainkan seorang tukang ilahi yang menjadikan dunia dari materi-materi yang tercerai berai dan sudah ada. Agar bisa menciptakan dunia terbaik dari materi-materi pra-eksis, yang tercerai berai dan tak beraturan, Demiurge mengubahnya menjadi gagasan atau bentuk makhluk hidup, dan menyalin setiap spesies dari entitas yang secara sempurna sudah ada. Meskipun ia seorang dewa Demiurge hanya bisa membuat salinan tak sempurna dari bentuk-bentuk ideal ini, karena materi pembuangnya secara alami bersifat keras kepala.
Di dalam Timaeus, Plato banyak mengungkapkan suatu deskripsi tentang suatu cara dimana Demiurge menciptakan dunia. Ia menjelaskan bagaimana Demiurge menciptakan dengan empat elemen utama: api, udara, air dan tanah. Ia juga menjelaskan bahwa empat elemen ini terdiri atas dua segitiga: segitiga tak beraturan dan segitiga sama sisi. Dari dua segitiga ini, Demiurge membuat empat bentuk geometris bersifat tiga dimensi, dimana masing-masing bentuk merupakan salah satu dari empat elemen utama. Bentuk-bentuk tersebut adalah tetrahedron menghasilkan api; octrahedron menghasilkan udara; icosahedron menghasilkan air; dan kubus menghasilkan tanah.
Meskipun Plato terkenal dengan penekanannya pada dunia yang secara matematis terstruktur, ia kurang yakin kita bisa memahami dunia materi yang selalu berubah, suatu dunia ketidak stabilan yang penghabisan.  Analisis dan penjelasan Plato yang sebagian bersifat teleologis, saat ia secara terang-terangan memandang dunia sebagai karya kecerdasan ilahiah.
Pemanfaatan bentuk  dialog secara eksklusif merupakan suatu kemajuan metode hexaemeral yang digunakan Parmenides dan orang lain, ini tidak cocok dengan kemajuan filsafat alam, meskipun oranglain kadang-kadang memanfaatkannya. Tetapi, meskipun Plato memperlakukan filsafat alam dan perilakunya terhadap dunia mempunyai pemgaruh di abad ke tujuh belas, sudah ditakdirkan bahwa perannya digantikan oleh murid utamanya, aristoteles. Dan Aristoteles-lah yang menjadi acuan kita sekarang ini[7].
C.    Filsafat Gua
            Sebagaimana “dunia ide” yang dikemukakan oleh plato,untuk mempermudah analog dengan menggunakan tentang gua yang berada dalam buku ketujuh politieia. Dengan perumpamaan gua, plato mau memperlihatkan bahwa apa yang ada pada umumnya dianggap kebenaran masih jauh sekali dari kenyataan yang sebenarnya dalam bentuk bayangan-bayangan, dan  apabila manusia berani membebaskan diri dari belenggu-belengunya di dalam gua harus keluar dari gua itulah ia akan sampai pada kenyataan yang sesungguhnya.
Realitas sebenarnya bukan realitas ndrawi,realitas indrawi hanyalah cerminan realitas sebenarnya dalam medium materi (semisal patung-patung merupakan duplikat dari yang nyata-nyata ada). Realitas sebenarnya bersifat ruhani dan oleh plato disebut idea. Idea itu bersifat abadi dan tak akan pernah berubah, seperti halnya idea “manusia”.
Pemikiran plato dipengarui oleh jiwa pemikiran Phytagoras,dengan membagi manusia terdiri dari : “Jiwa” dan “Badan”. Badan adalah wadah (makam ) jiwa. Sedangkan jiwa manusia sendiri merupakan sebuah ide dan sudah mempunyai eksistensi sebelum turun kedalam badan.
Plato menggambarkan puncak kesadaran filosofis adalah kesadaran idea-idea sendiri terarah pada suatu ide baru yang membuat semua idea itu diminati,yaitu ide yang baik ( The Idea Of Good ) , idea yang baik adalah “sang baik sendiri” dan “realitas tertinggi”.Sang baik itu adalah tujuan dari segala yang ada. Segala yang mempunyai dinamika batin, dinamika hakikat kehidupan manusia menuju sang baik itu.
D.    Ruang
Plato menamakan sesuatu yang belum berbentuk, yang belum tertentu tersebut, sebagai Wadah Penyebutan ini sulit dimengerti, karena kita biasanya cenderung mengira bahwa hal tersebut ialah materi. Sedangkan sesungguhnya yang dinamakan materi sudah merupakan sesuatu tertentu, dan yang tidak kacau susunannya. Plato menyebut Wadah tersebut dengan istilah lain, yaitu Ruang. Dikatakan bahwa pada dasarnya dunia kita ini terbuat dari Ruang dan Bentuk yang dipersatukan oleh Demiurgos[8].

E.     Pembagian Plato
            Mulai zaman dahulu ilmu filsafat sudah dibagi menjadi beberapa cabang. Pembagian yang dikemukakan ahli sering berlainan dan selalu menemui perubahan-perubahan. Dahulu tidak dibedakan ilmu filsafat dengan ilmu-ilmu pengetahuan  lainnya. Memang karena kurang atau belum berkembang, belum juga ada pengkhususan. Filsafat adalah induk segala ilmu-ilmu pengetahuan (matter scientiarum) yang dulu merupakan suatu keseluruhan. Namun orang telah membagi lapangan yang luas itu.
Misalnya: Plato membedakan filsafat atas tiga bagian sebagai berikut:
a.       Dialektika  : Tentang ide-ide atau pengertian-pengertian umum.
b.      Fisika         : Tentang dunia materiil.
c.       Etika          : Tentang kebaikan (Salam, Burhanuddin. 1988: 86-89).
Tujuan hidup plato dapat dilihat dari obsesinya tentang wujud sebuah negara yang ideal,teratur serta mencangkup di dalam masyarakat yang berpendidikan.Menurut plato,sistem pemerintahan harus didasari oleh idea yang tertinggi yaitu idea kebaikan, kemauan untuk melaksanakan itu tergantung pada budi.Tujuan pemerintahan yang benar adalah mendidik warga negara mempunyai budi yang hanya bersumber dari pengetahuan.Dalam negara ideal plato,semua orang harus hidup dengan moralitas yang baik dan terpuji.Mereka juga harus memiliki segala macam ilmu pengetahuan dan sanggup berpikir secara filsafati akan mampu mengarahkan ide,pikiran dan lebih dari itu,yang mampu membawa mereka kedalam pemahaman akan hakikat dari segala sesuatu yang ada.
F.     Negara Ideal
            Hal yang penting  untuk diketahui dari filsafat politik plato adalah pemikiran dia tentang negara.Plato beberapa abad yang lalu pernah melontar lebih dulu dengan menyatakan bahwa etika politik harus menjadi bagian integral politik dan perlu dikedepankan.Menurut plato dalam negara ada pembagian tugas dengan konsep negara ideal.Dalam golongan negara yang ideal itu golongan pengusaha yang menghasilkan,tetapi tidak memerintah golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi,dan mereka memerintah.
Sementara dalam konsep etika bernegara adalah yang dimiliki oleh masing-masing golongan adalah: bijaksana,berani,menguasai diri dan etika kerjasama bagi masyarakat,yaitu menuju keadilan.Oleh karena itu negara ideal bergantung etika penduduk,sehingga peradaban yang tinggi semakin memahami pendidikan,menurut plato dalam negara pendidikan adalah menjadi urusan yang terpenting bagi negara. Pemikirannya tentang Negara ini sebagai upaya Plato untuk memperbaiki Negara yang dirasakan buruk.
           Konsepnya tentang Negara di dalamnya terkait etika dan teorinya tentang Negara. Konsepnya tentang etika sama seperti Socrates, yaitu bahwa tujuan hidup manusia adalah hidup yang baik (eudaimonia atau well-being). Telah disebutkan, bahwa jiwa manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu: (1) bagian yang rasional, ialah bagian yang tertinggi, yang diarahkan kepada melihat ide-ide, yang memberi pimpinan kepada seluruh aktivitas manusia (sais); (2) bagian yang tengah, bagian kehendak, yang menjadi alat akal (rasio) untuk mengadakn tertib dalam bagian jiwa yang terendah, tempat perasaan-perasaan yang lebih tinggi, seperti umpamanya: keberanian, gila hormat, kemarahan yang adil; (3) bagian yang rendah, tempat nafsu-nafsu, baik yang seksual maupun yang lain, yang tidak teratur, yang harus diatur oleh bagian yang rasional[9]. Sehingga untuk hidup yang baik, dituntut adanya Negara yang baik. Dan negara yang buruk tidak mungkin menjadikan para warganya hidup dengan baik.
           Menurut Plato didalam Negara yang ideal terdapat tiga golongan, yaitu:
a.       Golongan yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang memerintah (para penjaga, para filsuf). Kebajikan golongan ini adalah kebijaksanaan.
b.      Golongan pembantu, terdiri dari para prajurit, yang bertugas untuk menjaga keamanan Negara dan menjaga ketaatan para warganya. Kebajikan mereka adalah keberanian.
c.       Golongan rakyat biasa, terdiri dari petani, pedagang, tukang yang bertugas untuk memikul ekonomi Negara. Kebajikan mereka adalah pengendalian diri.
Tugas Negarawan adalah menciptakan keselarasan antara semua keahlian dalam negara, sehingga mewujudkan keseluruhan yang harmonis. Bentuk pemerintahan harus disesuaikan dengan keadaan yang nyata.
            Apabila suatu negara telah mempunyai undang-undang dasar bentuk pemerintahan yang paling tepat adalah monarki. Bentuk pemerintahan yang aristokrasi dianggap kurang tepat dan sedangkan bentuk pemerintahan yang terburuk adalah demokrasi. Sedangkan apabila suatu negara belum memiliki undang-undang dasar maka bentuk pemerintahan yang paling tepat adalah demokrasi, dan yang paling buruk adalah monarki. Konsep tentang negara ini tertera dalam Politeia (tata negara).
Tujuan hidup plato dapat dilihat dari obsesinya tentang wujud sebuah negara yang ideal,teratur serta mencangkup di dalam masyarakat yang berpendidikan.Menurut plato,sistem pemerintahan harus didasari oleh idea yang tertinggi yaitu idea kebaikan, kemauan untuk melaksanakan itu tergantung pada budi.Tujuan pemerintahan yang benar adalah mendidik warga negara mempunyai budi yang hanya bersumber dari pengetahuan.Dalam negara ideal plato,semua orang harus hidup dengan moralitas yang baik dan terpuji.Mereka juga harus memiliki segala macam ilmu pengetahuan dan sanggup berpikir secara filsafati akan mampu mengarahkan ide,pikiran dan lebih dari itu,yang mampu membawa mereka kedalam pemahaman akan hakikat dari segala sesuatu yang ada.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas dapat simpulkan bahwa filsafat Plato menjelaskan secara keseluruhan tentang dunia ini. Dari pemikiran yang terdasar dari dunia ide hingga menjelaskan negara ideal menurut Plato.Dalam dunia ide manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu pengalaman yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah, dan dunia ide yang bersifat tetap dan tidak berubah.Dalam negara ideal terdapat tiga golongan yaitu: golongan tertinggi,golongan pembntu dan golongan rakyat biasa.Dan tujuan hidup plato adalah mewujudkan sebuah negara ideal dengan masyarakatnya yang berpendidikan.






                                                                                  







DAFTAR PUSTAKA

Muzairi. 2009. Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras.
Grant, Edward. 2011. A History of  Natural Philosophy Filsafat Alam. Yogyakarta: Mitra Sejati.
Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Hadiwijono, Harun. 1993. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius.
Salam,Burhanuddin.1988.Pengantar Filsafat.Jakarta:PT Bina Aksara
Hatta,Mohammad.1986.Alam Pikiran Yunani.Jakarta:UI Press.
Rohmadi, Syamsul Huda. 2013. Filsafat Umum. Surakarta: FATABA Press.


[1] Socrates merupakan seorang filosof dengan coraknya sendiri, dan juga merupakan gurunya Plato.(Hatta:73-86).
[2] Pythagoras adalah orang yang hidup bersama bersama Anaximenes, tetapi lebih muda. (Hadiwijono: 19-20).
[3] Hatta, Mohammad: 87
[4] Grant, Edward. 2011: 27
[5] Hadiwijono, Harun. 1993: 39-40
[6] Kattsoff, Louis O. 2004: 257-258
[7] Grant, Edward. 2011: 28-32
[8] Kattsoff, Louis O. 2004: 258
[9] Hadiwijono, Haru. 1993: 43

0 komentar:

Posting Komentar