PENGARUH ISLAM
DALAM WAYANG JAWA
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Islam dan Budaya Lokal
Dosen
pengampu : Susiyanto, M.Ag
Makalah
ini disusun oleh :
Kelompok
1
Septiyana
D A (143221119)
Ima
Yuliana (143221122)
Nur
Rahman S (143221123)
Bayu
Wiratama (143221127)
Riyan
Budi W (143221130)
Viana
Putri S (143221136)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
PENDIDIKAN
BAHASA INGGRIS
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Balakang Masalah
Sebelum Islam masuk ke Indonesia,
kebudayaan Hindu dan Budha telah berkembang dan mendarah daging selama ratusan
tahun. Wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan yang telah berkembang. Sulit
untuk mencabut suatu kebudayaan yang telah tertanam dengan begitu kuat kemudian
diganti dengan kebudayaan yang bernafaskan Islam. Dalam suatu pertunjukan
wayang kulit, biasanya menceritakan suatu lakon yang mengungkapkan suatu
permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat dan cara penyelesaiannya. Lakon
mempunyai maksud dan tujuan cerita yang dimainkan dalam wayang kulit
(Poerwandarminta, 1995: 552).
Kesenian wayang kulit mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kesenian yang
lainnya, kelebihannya adalah karena wayang kulit mempunyai kedudukan dan fungsi
yang cukup menonjol dalam kehidupan masyarakat. Dimana wayang kulit dapat
digunakan sebagai media pendidikan termasuk didalamnya pendidikan agama, media
penerangan dan media hiburan.
Wayang adalah sebuah seni pertunjukan khas Indonesia yang sudah sangat populer
baik itu di dalam atau luar pulau Jawa. Karya seni ini sudah dikenal masyarakat sejak zaman pra sejarah. Kemudian pada saat masuknya
pengaruh Hindu dan Budha, cerita dalam wayang mulai mengadopsi kitab
Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Lalu pada masa pengaruh
Islam, wayang oleh para wali digunakan sebagai media dakwah yang tentunya
dengan menyisipkan nilai-nilai Islam. Seni pewayangan merupakan perpaduan dari
berbagai seni seperti seni musik, seni ukir, seni lukis, kesusastraan, dan
falsafah ( Sri Mulyono, :1979: 6).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Wayang
Wayang berasal dari kata “wewayangan” yang secara harfiah
berarti bayangan. Ia merupakan istilah untuk menunjukkan teater tradisional di
Indonesia. Wayang adalah salah satu puncak seni
budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya
lainnya. Budaya
wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra,
seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, wayang adalah boneka tiruan orang dan lain sebagainya yang terbuat
dari pahatan kulit atau kayu dan lain sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk
memerankan tokoh di pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dan lain
sebagainya), biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang.
B. Sejarah/Asal-Usul Wayang
Asal-usul wayang di dunia ada dua pendapat. Pertama,
bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa
Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan
ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana
Barat, diantaranya Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan ini cukup
kuat karena seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural
dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa, yakni Punakawan tokoh yang
terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Dan tokoh
tersebut hanya ada dalam pewayangan
Indonesia dan tidak ada di Negara lain. Selain itu nama dan istilah teknis
pewayangan semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna) dan bukan bahasa lain.
Pendapat kedua diduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan
agama Hindu ke Indonesia. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia
setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, Raja Kahuripan (976-1012),
yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra
yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia,
sejak abad X. Antara lain naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa
Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910) yang merupakan
gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. Selanjutnya, para
pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke Bahasa
Jawa Kuna, tetapi mengubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan
falsafah Jawa Kuna kedalamnya.
Wayang sebagai satu pergelaran dan tontonan sudah dimulai ada sejak zaman
pemerintahan raja Airlangga. Untuk lebih menjawakan budaya sejak awal jaman
Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada
Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak itulah cerita-cerita Panji ini kemudian
lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan
cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, diantaranya para Wali
Sanga.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga member pengaruh
besar pada budaya wayang, terutama konsep religi dari falsafah wayang itu.
Sejak zaman Kartasura, pengubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan
Mahabarata semakin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar
wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal
dari Nabi Adam.
Sejatinya wayang merupakan media
yang digunakan Wali Songo, untuk menyebarkan Islam di nusantara dan wayang
dinilai sebagai media dakwah Islam yang sukses di Indonesia. keberhasilan wayang sebagai media dakwah dan
syiar Islam pada zaman Walisongo terletak pada kekuatan pendekatannya terhadap
masyarakat. Wayang, mampu mengenalkan Islam kepada masyarakat yang saat itu
menganut kepercayaan animisme,
dinamisme, serta menganut Hindu, karena menggunakan pendekatan psikologi,
sejarah, paedagogi, hingga politik.
Cikal bakal wayang berasal
dari wayang beber, yang gambarnya mirip manusia dan lakonnya bersumber dari
sejarah sekitar zaman Majapahit. Saat itu, Kerajaan Demak sebagai kerajaan
Islam, melarang wayang dipertunjukkan dengan gambar mirip manusia.
Lalu, Wali Songo berinisiatif mengubah gambar wayang menjadi gambar
karakteristik. Dulu, wayang dipertunjukkan di masjid, masyarakat bebas untuk
menyaksikan, namun dengan syarat mereka harus berwudhu dan mengucap syahadat
dulu sebelum masuk masjid.
C.
Bentuk Akulturasi Wayang Dan Islam
Berikut beberapa contoh akulturasi antara kisah atau pakem pewayangan yang
berdasarkan budaya Hindu-Budha yang kemudian digabungkan dengan unsur-unsur
Islam:
- Kalimah-Syahadah dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, karena kalimah Syahadah memang rukun Islam yang pertama. Dalam cerita wayang, sifat-sifat Puntadewa sebagai raja (syahadat bagaikan rajanya rukun Islam) yang memiliki sikap berbudi luhur dan penuh kewibawaan. Seorang raja yang arif bijaksana, adil dalam ucapan dan perbuatan, sebagai pengejawantahan dari kalimah Syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan. Puntadewa memimpin empat saudaranya dengan penuh suka duka dan kasih sayang. Demikian pula kalimah Syahadat sebagai “rajanya” rukun Islam yang lainnya, karena biarpun seseorang menjalankan rukun Islam yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima, namun apabila tak menjalankan rukun Islam yang pertama maka semua amalannya akan sia-sia belaka.
- Shalat lima waktu dipersonifikasikan dalam tokoh Bima. Dalam kisah pewayangan tokoh tersebut dikenal juga sebagai Penegak Pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja, karena memang tidak dapat duduk. Tidur dan merempun konon berdiri pula. Demikian pula sholat lima waktu selamanya harus ditegakkan. Baginya terpikul tugas penegak agama Islam dan jangan lupa sholat adalah tiang agama. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Shalat lima waktu adalah penegak agama Islam. Siapa-siapa yang menjalankannya berarti menegakan Islam”.
- Zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa yakni Arjuna. Nama Arjuna diambil dari kata “jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan symbol jiwa yang jernih. Kejernihan Arjuna memancar pada jiwa dan tubuhnya. Arjuna juga merupakan seorang pecinta seni keindahan. Perasaannya amat halus dan hangat. Karena kehalusannya, Arjuna jadi sulit mengatakan “tidak”. Karena kehalusan budi pekertinya tersebut Arjuna seolah-olah mempunyai kesan lemah. Padahal semua itu dilakukan agar tidak menyakiti hati orang lain. Selain itu dalam perang yang dijalaninya Arjuna tidak terkalahkan. Maka demikianlah, zakat sebagai rukun Islam yang ketiga, karena setiap muslim berkewajiban berzakat, mengandung inti kebijaksanaan agar setiap orang Islam untuk berjuang memperoleh rizki dan kekayaan. Dalam cerita kepahlawanan Pandawa, Bima dan Arjuna paling menonjol peranannya, satu terhadap lainnya sangat memerlukan hingga menjadi dwi-tunggal yang tidak terpisahkan. Demikian pula sholat lima waktu dan zakat merupakan dua rukun Islam yang tidak terpisahkan, selamanya berjalan seiring-sejalan.
- Puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula-Sadewa. Kedua tokoh ini tampil pada saat-saat tertentu saja. Demikian pula dengan puasa Ramadhan dan Haji tidak setiap hari dikerjakan. Bulan Ramadhan untuk puasa dan bulan Zulhijah, sekali dalam setahun untuk melakukan ibadah Haji.
Sunan Kalijaga juga berjasa dalam
menambah peralatan yang dipakai untuk pewayangan, seperti “kelir”, “blancong”
(lampu waktu pertunjukan) dan memakai pohon pisang serta menambah laras Pelog.
Demikianlah Wayang sebagai da’wah Islam telah dirintis sejak zaman para wali.
Sebagai hasilnya dalam waktu singkat penduduk pulau Jawa banyak yang memeluk
agama Islam, meskipun baru dalam tahap pengucapan kalimah Syahadat. Dalam menyelenggarakan pertunjukan
wayang, Sunan Kalijaga selalu memilih tempat yang tidak jauh dari masjid. Di
sekeliling tempat pagelaran wayang, Sunan Kalijaga lalu membuat parit yang
mengalir di dalamnya air yang jernih. Parit ini dibuat untuk melatih para
penonton wayang agar mencuci kaki sebelum masuk masjid.
Falsafah Islam yang lain juga kita dapati dalam gunungan yang merupakan
salah satu alat yang digunakan dalam sebuah rangkaian pertunjukan Wayang.
Sebelum pertunjukan Wayang dimulai, gunungan ditaruh di tengah-tengah kelir
yang merupakan titik pusat jangkauan mata penonton. Gunungan ini merupakan
gambaran simbolis dari “Mustika Mesjid”. Jika dibalikan gunungan ini akan
tampak seperti jantung manusia, yang terdiri bilik kiri, bilik kanan, serambi
kiri dan serambi kanan. Makna yang tersirat tidak sembarangan, karena
mengandung falsfah Islam. Sebagai orang yang hidup, jantung hatinya harus
selalu ada di Mesjid. Gunungan oleh dalang selalu ditancapkan ditengah, ini
mengandung arti bahwa yang harus diperhatikan pertama-tama dalam hidup ini
adalah masjidnya, atau kepentingan beribadat kepada Allah.
Gunungan menyerupai jantung manusia. Ia mempunyai tiga sudut. Pertama-tama
manusia tidak bisa lepas dari tiga hal, yakni Tuhan yang menurunkan adanya
manusia di dunia. Kedua, manusia dilahirkan lewat permainan asmara antara ayah
dah ibu, dan bertindak sebagai perantara dalam proses terjadinya manusia.
Ketiga, dalam proses terjadinya manusia tak bisa lepas dari anasir-anasir yang
berasal dari bumi, air, angin dan api.
Di tengah gunungan ada gambar batang pohon yang tegak lurus ke atas sampai
ujung. Inilah gambaran Imam Rajatul Yakin. Tanpa iman yang kuat kepada Tuhan
Yang Maha Esa, kita bisa terombang ambing dalam menjalani kehidupan. Sementara
lukisan emapat cabang besar melukiskan empat jenis nafsu kita. Keempat nafsu
tersebut dikenal dengan nama supiyah, amarah (nafsu terhadap keserakahan, dalam
Wayang dipersonifikasikan sebagai Dasamuka, raja Alengka), mutmainah
(pengekangan hawa nafsu sehingga bisa bertindak bijaksana, adil, tokohnya
adalah Wibisana, adik Dasamuka) dan aluamah (nafsu yang mementingkan makan dan
tidur, tokohnya Kubakarna, adik Dasamuka juga). Untuk menuju kesempurnaan
hidup, orang harus pandai mengendalikan keempat nafsu tersebut.
Pendekatan ajaran Islam dalam kesenian
wayang juga tampak dari nama-nama tokoh punakawan. Barangkali tak banyak orang
yang tahu kalau nama-nama tokoh pewayangan, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan
Bagong sebenarnya berasal dari bahasa Arab. Ada yang menyebutkan, Semar berasal
dari kata Sammir yang artinya “siap sedia”. Namun, ada pula yang
meyakini bahwa kata Semar berasal dari bahasa arab Ismar yang berarti paku.
Menurut orang yang berpendapat ini, lidah orang Jawa membaca kata is-
menjadi se-. Tak heran, jika tokoh Semar selalu tampil sebagai pengokoh (paku)
terhadap semua kebenaran yang ada. Ia selalu tampil sebagai penasihat.
Lalu, ada yang berpendapat, Gareng berasal dari kata Khair yang bermakna
kebaikan. Versi lain
meyakini, Nala Gareng diadaptasi dari kata Naala Qariin. Orang Jawa
melafalkannya menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti “memperoleh banyak teman”
yaitu sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya umat agar kembali
ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.
Petruk berasal dari kata Fatruk yang berarti meninggalkan. Selain itu, ada juga yang berpendapat kata Petruk diadaptasi dari kata Fatruk-kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf, “Fat-ruk kulla maa siwalLaahi” (tinggalkan semua apa pun yang selain Allah). Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong, artinya kantong yang berlubang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.
Petruk berasal dari kata Fatruk yang berarti meninggalkan. Selain itu, ada juga yang berpendapat kata Petruk diadaptasi dari kata Fatruk-kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf, “Fat-ruk kulla maa siwalLaahi” (tinggalkan semua apa pun yang selain Allah). Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong, artinya kantong yang berlubang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.
Sedangkan Bagong, diyakini berasal dari kata Bagho yang artinya
lalim atau kejelekan. Pendapat lainnya menyebutkan, Bagong berasal dari kata Baghaa
yang berarti berontak. Yakni, berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan.
Dalam pergelaran wayang, keempat tokoh Punakawan itu selalu keluar pada waktu
yang tak bersamaan. Biasanya, tokoh Semar yang dimunculkan pertama kali, baru
kemudian diikuti Gareng, Petruk, dan terakhir Bagong. Secara tak langsung
urutan tersebut menunjukkan ajakan (dakwah) yang diserukan para wali zaman
dahulu agar meninggalkan kepercayaan animisme, dinamisme, dan
kepercayaan-kepercayaan lain menuju ajaran Islam.
Selain Punakawan, istilah-istilah lain dalam pewayangan juga banyak
berasal dari istilah Arab. Astina yang diistilahkan sebagai nama kerajaan para
penguasa yang lalim, diyakini lebih dekat dengan kata Asy-Syaithan.
Rajanya, Duryudana, lebih dekat dengan kata Durjana. Setiap orang jahat
(durjana), pasti akan menemukan kekalahan dan menjadi teman setan di neraka.
Ketika seorang dalam memainkan Bala Astina dalam pentas wayang, mereka selalu
ditempatkan di sebelah kiri bersama-sama dengan para raksasa. Sedangkan Pandawa
Lima selalu di sebelah kanan. Hal ini menggambarkan bahwa yang baik dan yang
buruk itu berbeda.
Sementara itu, tokoh pewayangan yang dikenal kuat, perkasa, dan berjiwa
kesatria adalah Bima. Ia memiliki kekuatan yang disebut Dodot Bangbang Tulu Aji
dan Kuku Pancanaka. Kata Tulu Aji bermakna tiga aji atau tiga kekuatan. Maksud
ajian itu adalah Bima diselimuti tiga ilmu, yaitu iman, Islam, dan ihsan.
Sedangkan Kuku Pancanaka merupakan kekuatan untuk melengkapi Dodot Bangbang Tulu
Aji. Kuku Pancanaka memiliki arti kekuatan Lima Waktu. Apabila kedua kekuatan
itu digunakan, merupakan simbolisasi yang berarti apabila telah memiliki iman,
Islam, dan ihsan, tak akan pernah meninggalkan shalat lima waktu. Kata dalang
sendiri diambil dari kata ‘dalla’ yang berarti menunjukkan jalan yang
benar. Demikian juga kisah-kisah wayang yang dibuat oleh Walisongo kesemuanya
menampilkan cerita Islami. Di antaranya cerita Jimat Kalisada (Kalimat
Syahadat), Dewa Ruci, Petruk jadi Raja, dan Wahyu Hidayat (Wahyu Petunjuk).
Demikianlah beberapa contoh percampuran kebudayaan atau
biasa disebut akulturasi yang terjadi antara jawa dengan Islam yang ditemui
melalui simbol-simbol yang memiliki falsafah ke-Islaman dalam kesenian Wayang.
Wayang yang kita saksikan saat ini pun mengalami perjalanan panjang dan
mengalami berbagai proses perubahan seiring dengan berkembangnya zaman.
Keberadaannya hingga saat ini patut disyukuri –walaupun kadang kala sering
terlupakan sebagai salah satu khazanah budaya bangsa.
D.
Nilai-Nilai Islam Terkandung Dalam Wayang
Kedatangan agama Islam ditanah Jawa telah menimbulkan
perubahan kebudayaan yang melekat pada masyarakat Jawa. Perubahan yang terjadi
bukan semata-mata karena perombakan oleh dunia Islam, akan tetapi karena adanya
toleransi dari Islam untuk mengakulturasikan budaya yang telah ada. Dalam
Sejarah telah mengatakan bahwa akulturasi yang mendorong perkembangan Islam di
Jawa adalah Wayang.
Kebudayaan Jawa berupa kesenian pertunjukan wayang sudah
ada sejak zaman dahulu sebelum Indonesia merdeka dan merupakan
kebudayaan asli Indonesia. Pada mulanya wayang masih berhubungan dengan
kepercayaan animisme yang menjadi kepercayaan para leluhur
bangsa Indonesia. Sebenarnya wayang berasal dari kata wayangan yang
berarti sumber Ilham dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa
tergambar dengan jelas dalam batin si penggambar. Pada tahun (898-910) M.
Wayang sudah menjadi wayang Purwa, Namun tetap masih ditunjukkan untuk
menyembah para SangHyang seperti yang tertulis dalam prasasti
Balitung : Sigaligi MawayangBuat Hyang, Macarita Bhima ya Kumara.
Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena
Jayabaya termasuk penyembah dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat
dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Dewa Wisnu. Figur tokoh yang
digambarkan untuk pertama kalinya adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata
yaitu perwujudan dari dewa Wisnu.
Dalam perkembangannya, saat dunia Islam mulai menyentuh
pewayangan terjadi perubahan besar diseputar pewayangan. Raden Patah memerintah
mengubah beberapa aturan wayang yang segera dilaksanakan oleh para Wali secara
gotong royong, wayang Beber karya Prabangkara (zaman Majapahit) segera direka
ulang dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan, dibuat menyamping, tangan
dipanjangkan, digapit dengan penguat tanduk kerbau. Dan disamping itu,
Sunan Bonang menyusun struktur dramatikanya, Sunan Prawata menambah tokoh
raksasa dan kera dan juga menambahakan beberapa sekenario ceritanya. Raden
Patah menambahakan tokoh Gajah dan wayang Pramponan. Sunan Kalijaga mengubah
sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu, kini terdiri dari batang pisang,
blencong, kotak wayang, cempala dan gunungan.
Sunan Kudus kebagian tugas mendalang. ’Suluk’ masih
tetap dipertahankan dan ditambah dengan greget saut dan adha-adha, namun disana
sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah. Pada masa Sultan Trenggana, bentuk
wayang semakin dipermanis lagi. Mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan.
Susuhan Ratu Tunggal, pengganti Sultan Trenggana, tidak mau kalah. Dia
menciptakan model mata liyepan dan thelengan. Selain wayang Purwa, Sang Ratu
juga memunculkan wayang Gedhog, yang hanya digelar dilingkungan dalam keraton
saja. Sementara untuk konsumsi rakyat jelata, sunan Bonang menyusun Darmawulan.
Walisanga dalam mengemban tugas luhur tersebut adalah
dalam rangka mengislamkan tanah Jawa, dalam bukunya Poerbosoebroto yang
berjudul “Wayang Lambang Ajaran Islam” banyak sekali hal-hal yang berkaitan
dengan maksud Walisanga tadi. Oleh Walisanga, wayang diubah menjadi media
dakwah Islam. Akidah Islam disiarakan melalui mitologi Hindhu. Hal-hal yang
berkaitan dengan dengan dewa (hyang Sang Hyang) yang menjadi sesembahan
masyarakat waktu itu, dikait-kaitkan dengan cerita nabi. Mitologi Hindhu
berpegang pada dewa sebagai sesembahannya. Karena itu, Walisanga memadukan
cerita-cerita silsilah wayang yang diganti dengan silsilah Nabi..
E.
Tujuan Akulturasi Islam dengan Kesenian Wayang
Kesenian wayang kulit telah mendarah daging pada masyarakat Indonesia (khususnya
Jawa dan Bali) sehingga sulit untuk menghilangkan dan menggantinya dengan
kebudayaan Islam. Karena kesulitan untuk menghilangkan sesuatu yang telah
melekat di dalam hati, maka para Wali Songo tidak kehilangan akal. Agar dakwah
yang mereka lakukan berjalan lancar, maka salah satu cara yang ditempuhnya
adalah dengan cara memasukkan ajaran Islam ke dalam pertunjukan wayang kulit.
Sunan Kalijaga mementaskan Wayang kulit dengan cerita dan dialog sekitar
Tasawuf dan akhlaqul karimah, untuk melemahkan masyarakat yang pada waktu itu
beragama Hindu dan Budha yang ajarannya berpusat pada kebatinan. Pada masa itu
saat Majapahit masih cukup berkuasa, Sunan Kalijaga berusaha memasukan
unsur-unsur Islam yang kompleks dalam kisah pewayangan yang sudah mendarah daging
di kalangan penduduk Majapahit. Dengan melakonkan cerita Mahabarata, para
mubaligh dapat memasukkan unsur-unsur sendi kepercayaan atau aqidah, ibadah dan
juga akhlaqul-karimah. Sehingga pada masa itu wayang dijadikan sebuah alat
metode dakwah Islam oleh para wali dan mubaligh dengan tujuan supaya pengikut
agama Islam bertambah banyak khususnya di wilayah Jawa.
Pertunjukan wayang di Indonesia bukan saja
sebuah kesenian, melainkan juga sumber nilai. Wayang dalam perkembangannya sebagai sumber nilai, menyerap
berbagai ajaran tentang penghormatan kepada alam, nenek moyang dan para
dewa-dewi. Penghormatan itu dilakukan oleh manusia sebagai keinginan dasar
untuk berhubungan dengan kekuatan adikodrati (supranatural), kepemimpinan dan
kepahlawanan.Selain itu penghormatan semacam itu dilakukan sebagai bentuk
hubungan manusia dengan Tuhan, dan juga hubungan manusia dengan manusia lain.
Kesenian wayang umumnya memuat ajaran keagamaan dan kehidupan. Wayang selalu
berubah dan menyesuaikan diri dengan konteks keagamaan dan zamannya. Pada masa
penyebaran agama Hindu-Budha dan juga Islam dan Kristen, kesenian wayang selalu
dimanfaatkan sebagai media yang popular dan efektif untuk dakwah keagamaan.
Meskipun sudah berkembang sejak masa Hindu-Buddha, kesenian wayang di Jawa mendapat sentuhan kreatif pada masa Islam. Sentuhan itu bukan saja terlihat dalam bentuknya melainkan juga pada tema-temanya. Meskipun begitu, wayang tetap mengandung pakem- pakem cerita utama, seperti Ramayana dan Mahabarata. Kesenian wayang di Jawa menjadi alas dakwah dan pendidikan paling efektif dan telah diterima masyarakat sehingga tetap hidup dalam berbagai bentuk perkembangannya sampai sekarang. Dari kesenian wayang yang bernafaskan Islam tersebut lahirlah sejumlah jenis wayang antara lain Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Kayu, Wayang Krucil, Wayang Golek, bahkan Wayang Suket.
Meskipun sudah berkembang sejak masa Hindu-Buddha, kesenian wayang di Jawa mendapat sentuhan kreatif pada masa Islam. Sentuhan itu bukan saja terlihat dalam bentuknya melainkan juga pada tema-temanya. Meskipun begitu, wayang tetap mengandung pakem- pakem cerita utama, seperti Ramayana dan Mahabarata. Kesenian wayang di Jawa menjadi alas dakwah dan pendidikan paling efektif dan telah diterima masyarakat sehingga tetap hidup dalam berbagai bentuk perkembangannya sampai sekarang. Dari kesenian wayang yang bernafaskan Islam tersebut lahirlah sejumlah jenis wayang antara lain Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Kayu, Wayang Krucil, Wayang Golek, bahkan Wayang Suket.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa yang berasal dari agama
Hindu India. Berdasarkan asal-usul wayang, ada dua pendapat, pertama bahwa
wayang berasal dari Pulau Jawa khususnya Jawa Timur, pendapat yang kedua bahwa
wayang berasal dari India dibawa ke Pulau jawa oleh agama Hindu. Wayang
berasal dari cerita Ramayana dan Mahabarata dan menjadi pertunjukkan dan tontonan,
namun seiring dengan beiringan masuknya Islam ke Jawa, sebagai bentuk dakwah
Islam di Jawa wayang menjadi salah satu bentuk akulturasinya.
Bentuk akulturasinya pada tokoh puntadewa, bima, arjuna, nakula-sadewa, dan
yang lain. Nilai pergelaran wayang diisyaratkan dengan nilai-nilai islam oleh
para walisanga. Adapun beberapa bentuk akulturasi Islam dengan kesenian wayang
diantaranya; Kalimah-Syahadah dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau
Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, shalat lima waktu dipersonifikasikan
dalam tokoh Bima, zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa
yakni Arjuna. puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar
Nakula-Sadewa. Dan begitu juga nama-nama yang digunakan dalam pewayangan diambil dari bahasa arab
seperti nama-nama punawakan yaitu Semar, Petruk, Gareng , Bagong dan juga nama
dalang , tokoh Bima dengan Dodot Bangbang
Tulu Aji dan Kuku Pancanaka yang menggabarkan iman, islam, ihsan, sholat 5
waktu dan Kerajaan Astina.
Akulturasi yang dilakukan oleh walisanga dalam pagelaran wayang di daerah Jawa
tidak lepas dari misi dakwah yang diemban oleh Sunan Kalijaga, dengan melihat
realitas sosial pada saat itu yang menunjukan kentalnya kesenian wayang dalam
kehidupan masyarakat, mendorong sunan Kalijaga untuk menjadikan wayang sebagai
salah satu metode dalam dakwahnya, yaitu dengan memasukan ajaran-ajaran maupun
nilai-nilai Islam seperti aqidah, akhlak, dan ritual-ritual peribadatan dalam
Islam.
DAFTAR PUSTAKA
ejournal.stain.pwt.ac.
Sri Mulyono. 1979. Wayang dan Karakter Manusia. Jakarta:Gunung
Agung
Tim penyusun Sena Wangi. 1999. Ensiklopedia
Wayang. Jakarta: Sena Wangi
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan
Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta:
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
0 komentar:
Posting Komentar